Terus terang saya tidak berkecimpung dibidang aviasi atau bisnis penerbangan dan juga bukan peneliti mengenai pesawat terbang. Tapi entah mengapa, saya sedikit gandrung dengan sesuatu yang terbang. Sejak pertama kali naik pesawat, saya jadi ketagihan mengendarainya lagi dan lagi. Apalagi kalo diberi kesempatan menjadi drivernya. Dari sini sudah jelas posting ini pasti membahas mimpi, lagi lagi mimpi.

Saya jadi ingat dulu waktu saya kemah pramuka di suatu lereng bukit di gunung Lawu, saat itu ada pertemuan anggota bantara di lapangan. Masing-masing anggota mengenalkan diri dan menyebutkan pula cita-citanya. Saat itu sambil bercanda saya bilang, “Cita-cita saya menjadi supir”. Serentak teman-teman mengetawai saya. Tapi yang namanya saya, tidak menyerah begitu saja diketawakan, saya lanjutkan “pesawat terbang”. “Wuuuuuuuuu”, disorak lagi tapi saya yakin yang terakhir sorak karena kagum, he..he..

Kalau saya mampu, saya ingin membuat baju besi yang bisa terbang mirip punya Tony Stark yang jadi Iron Man itu. Bukankah mengasikkan kalo bisa terbang single dengan kecepatan menyamai kecepatan pesawat tempur. Keren kan.. Sepertinya, peralatan tempur model masa depan akan mengarah pada senjata model seperti itu. Bukan tidak mungkin loh.

Kini, negara negara barat sudah mulai mengembangkan senjata model robot tanpa awak (lihat video). Itu untuk mengimbangi kekuatan negara negara musuh mereka yang mulai sama-sama kuat. Bentuk senjatanyapun bermacam-macam, ada yang berupa pesawat pengintai, robot seperti tank, dll. Kalau mereka sudah membuat yang seperti itu, kapan ya Indonesia juga membuat senjata model seperti itu untuk mengimbangi kekuatan asing.

Saya jadi ingat tentang sejarah perang dan opini saya mengenai itu. Perang jaman dulu senjatanya tidak begitu berbahaya, mungkin paling berbahaya sekalipun panah beracun atau batu besar yang dilempar dengan katapel raksasa. Panah dapat membunuh satu atau 2 orang saja. Sedangkan katapel membunuh banyak musuh tapi gampang dihancurkan. Perang jaman dulu selalu menyisakan banyak sekali korban. Sedangkan perang jaman sekarang agak sedikit beda. Senjata yang digunakan sangat canggih. Yang paling ringan yaitu pistol otomatis yang bisa digunakan untuk membunuh 2 atau lebih dalam beberapa detik. Namun kalau dilihat dari segi korban, masih kalah dibanding perang jaman dahulu. Kesimpulannya, semakin berkembang jaman semakin sedikit korban perang (benar tidak ya). Yang jelas, keterlibatan manusia dalam berperang semakin berkurang. Oleh karena itu, negara kita harus ikut juga mengembangkan ‘mainan’ untuk pertahanan wilayah kita sendiri. Bayangkan kita punya robot pengintai dan pengawas di daerah ambalat yang dijalankan oleh mesin. Keren bukan.

Mimpi ini dimulai dari sesuatu yang sangat canggih tapi tetap namanya ‘mainan’. (sepertinya saya masih kekanak-kanakan banget ya, masih suka mainan). Pernahkah anda tahu tentang model pesawat yang dijalankan dengan remot kontrol. Coba bayangkan apabila pesawat remot anda diberi kemampuan untuk menembak musuh. Pasti keren. Atau pesawat anda mampu terbang tanpa remot juga tanpa intruksi langsung. Pesawat mampu mengenali objek dan mengerjakan tugas yang telah diberikan sebelumnya. Nah disinilah letak mimpi saya.

Mimpi. Saya ingin membuat model pesawat terbang yang mampu terbang dan mendarat dengan sendirinya. Dia juga bisa mengerjakan tugas yang telah diprogram sebelumnya. Tugas bisa berupa pengintaian, pengambilan gambar jarak jauh, pengiriman paket, pemetaan wilayah, maupun tugas-tugas yang ditujukan untuk main-main saja (misal ada lomba model otomatis seperti kontes KRI maupun KRCI di Indonesia). Terus terang ini adalah pekerjaan yang tidak bisa dikerjakan oleh orang yang bercokol pada satu bidang saja. Ada beberapa tenaga ahli dari beberapa bidang ilmu harus diikutkan dalam pekerjaan ini. Kalaupun suatu saat (mimpi) saya diberi kesempatan menjadi menejer proyek ini, saya akan beri nama proyek ini dengan “UAV Mega Project”. Nama yang keren bukan sih ??? :-?

Baik, saya tidak begitu paham mengenai beberapa hal, namun saya akan tetap terangkan mimpi yang telah saya dapatkan. Jadi begini,…..

Pekerjaan ini membutuhkan tenaga tenaga seperti ahli aviasi. Dia memiliki kemampuan tentang radar, sudut-sudut dalam penerbangan, serta seluk beluk mesin pesawat sesungguhnya. Mungkin posisi ini bisa ditempati oleh engginer pesawat terbang. Orang kedua adalah Pilot. Pilot memberikan informasi tentang tatacara terbang diudara, pengambilan kebijakan, serta menggambarkan tugas-tugasnya di pesawat. Informasi dari pilot ini nantinya akan ditransfer kedalam otak digital dari pesawat itu sendiri. Engginer nomor tiga yaitu orang informatik atau komplek system. Dia merancang otak digital yang nantinya menanggapi respon dari beberapa alat yang ada seperti radar dan lain sebagainya. Tugas-tugas pesawat ini nantinya juga akan dimasukkan dan diprogram oleh informatik engginer. Untuk membuat pesawat sederhana hanya membutuhkan tiga teknisi diatas. Diasumsikan pesawat dipesan di toko mainan. He.h.e.. Namun apabila kita ingin mengembangkan pesawat yang sedikit canggih, misal pesawat dengan mesin jet, maka dibutuhkan pula teknisi mesin jet. Orang ini nantinya akan membangun mesin jet mini yang digunakan sebaga tenaga pendorong pesawat. Oh ya yang terakhir mungkin tukang kayu. Bagaimanapun, badan pesawat dibuat dengan membutuhkan kemahiran memotong yang bagus. Kalaupun dari plastik atau fiber, maka dibutuhkan tukang fiber.

Dengan isengnya saya sudah membuat roadmap sederhana untuk mengembangkan proyek ini dan bisa dilihat pada gambar dibawah.

Fig 1 : UAV mega project roadmap (click to enlarge)

Saya yakin, pekerjaan ini mempunyai banyak manfaat untuk bangsa kita. Selain meningkatkan daya saing bangsa juga sebagai ajang pamer kepada dunia luar bahwa Indonesia juga bisa mengembangkan sesuatu yang mereka kembangkan.

Future worknya adalah, kepada para peneliti Indonesia, baik yang muda ataupun tua. Mari kita bahu membahu menciptakan apa yang timbul diubun-ubun (halah) menjadi nyata. Pekerjaan ini menurut saya membutuhkan kontribusi dari beberapa institusi, baik itu akademis maupun institusi pemerintah. Dari segi dana tentunya diperlukan campur tangan pemerintah. Dari segi bidang ilmu diperlukan penelitian kolaborasi dari beberapa universitas. Jika universitas kita masih memiliki ego yang sangat tinggi. Kolaborasi dan pekerjaan ini tidak akan terjadi.

Demikian mimpi yang bisa saya sampaikan, kurang lebihnya saya mohon maaf

Video yang tersedia :

http://www.liveleak.com/view?i=d84_1173444084

http://www.youtube.com/watch?v=bgCGMfFYg9o

  • Share/Bookmark