- Aku benar-benar tidak tahu kenapa harus menulis ini. Yang ku tahu, aku suka melakukannya. Ini bagaikan refleksi hidup, hidupku. Aku sedang bercermin, sekarang. -

Negeri diatas awan (Jan 2009).

Aku kesana mencari jati diri, sekaligus mencari bidadari yang mau menjaga hatiku sepanjang waktu.

Liburan kadang membuatku tertekan, seakan berdosa sekali jika aku tidak memanfaatkannya dan atau merayakannya. Entah kenapa itu selalu terasa di hati yang paling dalam, seakan detik demi detik hidup ini bernilai sekali (bernilaikah ?). Berlibur kadang sarat akan suatu hal yang biasanya tidak sama sekali cocok dengan gaya hidup yang diturunkan orang tua dan leluhurku terdahulu. Atau bahkan leluhur bangsa ini. “Boros” kadang membayangiku untuk mengalihkan keinginanku untuk memanfaatkan “liburan”. Meski banyak orang yang mampu bilang “cari liburan yang murah” :D. Hmmm, mungkin hanya keraguan bercampur kemalasan saja yang menelubungi anggapan itu.

Minggu lalu, teman baikku dari jakarta (sekarang bekerja di jakarta) menghubungiku. Seperti panggilan tugas saja, atau Call Of Duty, game perang-perang itu. Dia mengajakku untuk melakukan hal yang mampu menghilangkan dosa atas penggunaan dan pemanfaatan hari libur. Dan yang pasti, dia ingin mengulang petualangan yang telah dua kali aku lakukan bersamanya. Yupi, “mendaki gunung lawu”.

- Aku penakut, namun aku merasa tenang bersamamu kawan. Tunjukkan bahwa hidup ini tidak menakutkan -

Pendakian terdahulu, ….. mengesankan. Entah kenapa mendaki bagai candu yang merasuk ke tubuh ini tanpa konter sedikitpun. Perih dirasakan saat pertama atau bahkan merasakannya. Namun semakin dirasa semakin merasuk dan tak bisa ditawar-tawar lagi. Saat itu, … pendakian pertama. Aku dan lainya bertujuh tambah lima, jadi berduabelas orang mendaki bersama. Malam,…. entah apa jadinya kami tanpa berlima. Malam, …. tak bisa kupercaya aku mendaki malam hari. Yang pasti, … Aku ketakutan :(.

Pendakian Gunung lawu yang pertama (17 Agustus 2003)

Pendakian kedua. Kami berempat, dengan teknik dan rencana kami sendiri, kami mandiri, mampu merencanakan sendiri. Dua orang dari tim pendakian pertama, dan 2 orang baru. Kami percaya padanya, karena dari segi fisik, aku jauh lebih buruk. Intinya, aku bisa menggantungkan diri pada mereka (aku belajar kata “Oportunis” untuk masalah ini). Pendakian ke dua juga berhasil. Dengan kondisi yang lebih baik dari pendakian pertama. Namun ternyata, plan kami agak kurang bagus dalam harapan :D. Kami harus belajar lagi :D.

Pendakian kali ini, lebih matang lagi. Masih empat orang lagi. Mungkin aku akan memperkenalkan mereka. Dimulai dari team leader kami, kami memanggilnya “Rudi”. Dia ikut petualangan kami yang kedua, jadi ini kedua kalinya dia mendaki bersama kami. Kemudian tim medis yang biasa kami panggil, handaru atau ndaru. Dia sekarang mengadu nasib di jakarta. Hmmmm, suatu petualangan juga. Ketimbang aku yang hanya di surabaya :D, petualang bilang, ah.. kurang jauh. Dia bagian membawa peralatan medis dan bertindak sebagai perawat anggota tim sekaligus konsultan kesehatan. Dia sempat menyelamatkan kepalaku saat terantuk pohon karena pohon terlalu rendah untuk aku lewati. Berdarah, dan untungnya dia membawa obat luka :D. Anggota tim ketiga yaitu Harun, dia anggota baru tim. Baru kali ini dia ikut mendaki. Yang terakhir adalah aku. Aku bertindak sebagai kameramen, he..he.. gak jelas bukan. Karena photo yang aku ambil paling banyak, dan baterai HAPE ku juga paling awet untuk sesi Photo-photo.

Ki-ka : Aku, Harun, Handaru, Rudi

Seperti biasa, kami mendaki melalui jalur jawa tengah yaitu cemoro kandang. Jalur lain yang dapat dilewati adalah cemoro sewu, yang ini masih terletak di jawa timur. Seperti yagn telah diwarisi oleh si lima, mereka beranggapan jalur comoro kandang lebih mild untuk dilalui pemula, meskipun jaraknya lebih panjang ketimbang cemoro sewu. Namun harus berhati-hati, saat musim hujan kadang jalannya licin dan kelihatan liar. Beda dengan jalur cemoro sewu yang telah certata rapi dengan batu sebagai pijakan, pagar pegangan, dan jalurnya terlihat jelas serta lebih pendek. Namun kami kurang suka lewat jalur ini untuk pendakian seperti wejangan si lima. Ya jalur ini terlalu menanjak. Mungkin, untuk yang kakinya serng kram kurang baik. Kerja kaki lebih berat. Aku sendiri pernah mengalami kram kaki saat jalan menanjak di perlomban lintas alam beberapa tahun lalu. Kram….. menakutkan, kadang hampir tak mampu berjalan. Jalur cemoro sewu asik untuk jalur turun. Itu menurut kami :D.

Setiap pendaki diharuskan mendaftarkan diri dan mencatatkan sebagai pendaki di pos cemoro kandang. Setelah itu kami meritualkan diri untuk membaca peraturan dan larangan mendaki yang terpampang di pengumuman di depan pos. Terakhir, sebelum berangkat kami berdoa, dipimpin oleh tim lider, Rudi. Berangkat………

Papan peraturan

Kami berjalan dengan santai. Tidak tergesa-gesa dan berangkat sekitar pukul 10 siang. Kami berencana beristirahat ke pos 4 sebelum akhirnya meneruskan perjalanan ke puncak. Meski akhirnya kami mengubah rencana karena kondisi yang tidak memungkinkan. Kami menuju tempat yang tidak pernah kami singgahi di pendakian satu dan dua, Hargo Dalem, untuk beristirahat. Kami berjalan sampai malam dari pos 4 sudah jam 18.30. Meski sempat bingung di persimpangan “selo” akhirnya kami sampai juga di persimpangan cemoro kandang, hargo dalem, hargo dumilah (puncak). Dari situ kami ambil jalur kiri ke hargo dalem, yang konon sebagai tempat ritual di gunung lawu. Di sana terdapat banyak warung yang besar-besar, pengunung dan pendaki dapat menginap di dalamnya. Yang aneh, diwarung-warung tersebut ada lampu listrik yang menyala. Hmmm kami belum sempat menyelidiki dari mana sumber listriknya. Kami sampai hargo dalem malam hari sekitar jam 9 malam. Kami istirahat di barak seng yang disiapkan untuk pendaki. kami memasak, tidur dan menghangatkan diri dengan api unggun disitu. Sampai menjelang pagi, jam 03.00 kami berangkat ke puncak hargo dumilah yang merpakan puncak tertinggi gunung lawu dengan ketinggian 3265 meter diatas permukaan laut (mdpl). Sampai dipuncak, …. hmmmm masih bisa terkagum-kagum atas kebesaran Allah. Di atas kami kembali memasak untuk sarapan pagi dan merebus air untuk menyeduh kopi. Di puncak kami memuaskan diri untuk mengambil photo.

Tim di puncak lawu

Mendaki ini bagaikan refleksi hidup, penuh cobaan, kita harus bersabar seperti yang disampaikan pak tua di dalam perjalanan kami. “Yang penting iku sabar mas, smua cobaan seperti apapun pasti akan terlewati kalau kita sabar”. Kami percaya saja, beliau perujar pernah mendaki lawu tiap tahun mulai tahun 80, jadi sekitar 28 kali pendakian, manut wes :D

Akhirnya kami di negeri diatas awan

- aku rindu mendaki lagi, sesaat setelah aku sampai di bawah. Seperti lingkaran hidup manusia, kadang dibawah kadang diatas. tentunya semua manusia ingin diatas bukan. Jadi kenapa kalian tidak mendaki gunung saja. Untuk keatas, memang harus didaki dengan penuh kesabaran. Seperti hidup, Mungkin … Jadi kenapa takut mendaki? kenapa takut mendaki hidup? kalau itu menyenangkan -

Kami memutuskan untuk turun gunung setelah puas photo dan sekitar pukul 7 pagi, kami turun. Melalui jalur pendakian cemoro sewu. Kami menemukan yang baru dari jalur itu, sekarang sudah menjadi jalur yang bagus ketimbang ketika saya lalui di pendakian pertama dan kedua. Jalurnya sudah jelas terlihat terdapat pagar pegangan untuk pendaki yang terbuat dari besi. Kalau dilihat dari bawah atau atas seperti hamparan “stairway to heaven”, he..he.. Akhirnya sekitar pukul 12 siang kami sampai bawah dan kami putuskan untuk secepatnya pulang karena besok harus bekerja kembali.

Stairway to heaven

- Aku bebas sebebas-bebasnya -